AKU BERCERITA

Aku dan kamu, menikah dalam kata “seumpama”. Dan jika kamu selingkuh, aku tak akan cemburu.

—Riuh Malam

Karena, akhir adalah bemula dari awal. Maka, bahagia bermula dari duka.

—Riuh Malam

Murka, bukan berarti marah, kenyataannya, menangis bukan berarti bersedih.

—Riuh Malam

Memenuhi, bkan berarti sekedar “punya”. Memenuhi, lebih dari kata “selalu ada”.

—Riuh Malam

Selama ingin menjadi “diri sendiri”, lakukanlah hal yang biasa di anggap kurang percaya diri.

—Riuh Malam

Aku mensyukurimu dengan mempertahankanmu. Aku memujamu dengan menantimu di pintu hatiku.

—Riuh Malam

Mading.Ini sekitar ruangan kampus yang setiap selasa (untuk saat ini) aku tempati. Merupakan sebuah keprihatinan tersendiri untuk aku. Yang mungkin dari beberapa orang, hatinya berucap sama. Aku mengingat berapa tahun yang lalu. Yang mungkin bagi setiap murid SMP untuk saat ini, pun masih merasakannya. Mading, adalah tempat berbagi kisah kecil di antara sebuah karya kecil. Baik kepenatan, dan mungkin tentang rasa kekaguman di sekitar ruangan sekolah. Ada sebagian rasa kagum, yang terpancar dari muka murid-murid tersebut. Merupakan suatu kehormatan yang mendalam untuk murid yang tulisan ataupun karya kecilnya terlampir. Tapi, berbeda untuk saat dimana anak-anak murid berganti nama menjadi anak-anak mahasiswa. Menurutku, untuk sebutan mahasiswa sendiri, cenderung ke dalam sebutan “Brengsek”. Yang tidak, ataupun lupa dengan masa-masa yang telah melahirkan sebuah nama mahasiswa itu sendiri. Dan tentang mading, bukan lagi sebagai media untuk berkarya. Transisi ke dewasaan bukanlah hal yang menjadikan untuk setiap manusia berpikir kreatif.Contohnya, mading di kampusku ini, yang mungkin sudah terlihat berantakan. Yang lebih membuat aku tersinggung, malah, kotak sampah adalah identitas nyata untuk karya-karya kecil manis yang terletak sebelumnya di tubuh mading. Miris. 

Mading.

Ini sekitar ruangan kampus yang setiap selasa (untuk saat ini) aku tempati. Merupakan sebuah keprihatinan tersendiri untuk aku. Yang mungkin dari beberapa orang, hatinya berucap sama.

Aku mengingat berapa tahun yang lalu. Yang mungkin bagi setiap murid SMP untuk saat ini, pun masih merasakannya. Mading, adalah tempat berbagi kisah kecil di antara sebuah karya kecil. Baik kepenatan, dan mungkin tentang rasa kekaguman di sekitar ruangan sekolah. Ada sebagian rasa kagum, yang terpancar dari muka murid-murid tersebut. Merupakan suatu kehormatan yang mendalam untuk murid yang tulisan ataupun karya kecilnya terlampir. 

Tapi, berbeda untuk saat dimana anak-anak murid berganti nama menjadi anak-anak mahasiswa. Menurutku, untuk sebutan mahasiswa sendiri, cenderung ke dalam sebutan “Brengsek”. Yang tidak, ataupun lupa dengan masa-masa yang telah melahirkan sebuah nama mahasiswa itu sendiri. Dan tentang mading, bukan lagi sebagai media untuk berkarya. Transisi ke dewasaan bukanlah hal yang menjadikan untuk setiap manusia berpikir kreatif.

Contohnya, mading di kampusku ini, yang mungkin sudah terlihat berantakan. Yang lebih membuat aku tersinggung, malah, kotak sampah adalah identitas nyata untuk karya-karya kecil manis yang terletak sebelumnya di tubuh mading. 

Miris. 

Indikasi batre henpun mau off, lebih sadis ketimbang tiba-tiba di putusin pacar lewat sms.

—Riuh Malam

Jujur, aku tak sanggup membuatmu terus tertawa, aku hanya bisa, selalu menjagamu dengan tangisan bahagia.

—Riuh Malam

Kau, seperti angin yang selalu menyejukkan. Kau, seperti air yang selalu melegakan. Dan, kau, seperti nafas yang slalu menghidupkan.

—Riuh Malam

Bayang wajahmu masih tergambar jelas di dalam kenangan, yang menuntunku, menuju hari dengan segala beban.

—Riuh Malam

Sedangkan, aku disini selalu menjagamu dengan tadahan tangan menghadap Tuhan. Apa kurangnya aku yg suka memujimu saat kau menghadap kedepan.

—Riuh Malam

Dimatamu, tersimpan keluh kesah akan hal yang tak kunjung sumringah. Sudah kubilang, dia tak sebanding dengan aku yang selalu bersyukur.

—Riuh Malam

Kelak, kau akan merasakan karmamu, disaat aku telah hidup bersama “Kesetiaan”, hal yg pernah kau abaikan.

—Riuh Malam

Senyummu, buat mataku kian kaku.

—Riuh Malam